Puisi ini lahir dari refleksi atas kehidupan manusia yang kerap terjebak dalam hiruk-pikuk dunia. Di tengah ambisi, persaingan, dan godaan materi, manusia sering kali lupa bahwa kehidupan tidak berhenti pada pencapaian duniawi semata. Ada batas yang pasti akan dilalui setiap jiwa: kematian.
Kesadaran akan kematian dalam puisi ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang akan dimintai pertanggungjawaban. Kehidupan dunia yang sering tampak panjang dan memberi ruang untuk menunda, pada akhirnya akan terhenti pada waktu yang tidak pernah diketahui manusia.
Puisi ini berangkat dari QS. Ali Imran ayat 185 yang menegaskan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. Selain itu, hadis Nabi Muhammad saw. riwayat Bukhari juga menjadi landasan moral bahwa setiap manusia adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya, sekecil apa pun itu.
Semoga puisi ini menjadi pengingat diri untuk mempersiapkan hidup yang lebih baik lagi.
Yang Tidak Selesai di Liang Lahat
Oleh: Devi Virhana
Ada yang tetap terjaga ketika tubuh telah rebah di dasar tanah
Bukan nama, sebab nama perlahan hilang dari ingatan
Bukan harta, karena ia akan berpindah tangan
Bukan pula popularitas yang dipuja manusia,
sebab suara tepuk tangan itu.. tak pernah menembus liang lahatmu
Ketika sang surya menyilau kita dari sinarnya
Manusia-manusia berangkat dengan wajah-wajah yang penuh ambisi
Demi memenuhi pundi-pundi yang mendominasi putaran hari
Walaupun di tengah efisiensi
Lalu dunia datang menyingkap pasarannya:
sedikit dusta untuk kemudahan,
kecuil kecurangan demi keuntungan,
Dan nurani yang semula menjerit
perlahan belajar berbisik.
Tak apa…
Hanya sekali.
Tak apa…
Tak ada yang tahu.
Tak apa…
Semua orang melakukannya.
Begitulah bintik-bintik hitam menyerang sel kejujuran
Melumuti tiang-tiang kebenaran hingga rapuh perlahan
Dan kita terus berlari mengira usia masih panjang.
Melihat esok masih bisa dijelang
Mengira maut masih tersesat jauh dari pandangan
Padahal kematian
tak pernah salah mengetuk pintu.
Tak pernah membaca berapa usiamu.
Tak pernah peduli jabatanmu.
Tak pernah memberi kesempatan
untuk menyelesaikan alasan-alasan untuk menunda dulu
Seketika.
Napas yang selama ini setia, berpaling.
Denyut yang selama ini patuh, telah berhenti.
Dan dunia yang selama ini diperebutkan
mendadak kehilangan harga.
Tubuh yang dahulu dibela dengan segala cara
kini terbaring kaku dibelut kain yang tak bersaku
Hari itu, terputuslah segala urusan
Yang tinggal hanyalah catatan-catatan
Tak ada penghargaan yang mampu menerangi kuburan
Di situlah manusia terhenyak.
bahwa yang dikumpulkan ternyata ditinggalkan, dan yang diabaikan ternyata dipertanyakan.
Maaaan robukaaaa…?
Pada hari itu tersingkaplah semua perbuatan
Didesak pertanyaan-pertanyaan
Bagi yang tiada mampu menjawab amalnya sendiri
Dipukul malaikat berulang kali ke dasar bumi
Inikah dosa yang engkau dustakan?
Inikah akibat amanah yang kau sia-siakan?
Inikah dunia yang engkau rajakan?
Dan kini, kita masih mendengar hembusan napas.
Selagi ruh masih bersama jasad.
Selagi pintu-pintu taubat belum tertutup rapat.
Berbenahlah.
Sebab ketika nyawa telah sampai di kerongkongan,
tiada satu pun makhluk mampu memberi pertolongan.
Yang ditelan bumi hanyalah jasad.
Namun amanah
tak pernah selesai di liang lahat.
Ia akan berdiri,
ketika jasad
tak lagi mampu menjawab.
Tentang penulis
Devi Virhana merupakan lulusan Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam yang aktif dalam bidang komunikasi, bahasa, dan sastra. Ia juga terlibat dalam pengembangan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bagi Penutur Asing melalui ruang belajar mandiri (BIPA Pertiwi) yang berfokus pada diplomasi bahasa Indonesia bagi penutur asing dari berbagai negara.


![[PUISI] Yang Tidak Selesai di Liang Lahat](https://i0.wp.com/faktanesia.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-19-at-21.33.16.jpeg?fit=788%2C684&ssl=1)