Di tengah kehidupan sosial yang semakin cepat dan terbuka, komunikasi manusia tidak selalu bergerak ke arah yang lebih sehat. Kata-kata yang semestinya menjadi jembatan untuk saling memahami sering kali berubah menjadi alat untuk melukai. Dalam percakapan sehari-hari maupun ruang digital, prasangka, bisik-bisik, dan pembicaraan tentang aib orang lain kerap dianggap lumrah, bahkan menjadi bagian dari keakraban.
Puisi ini lahir dari kegelisahan terhadap fenomena tersebut. Karya ini menjadi refleksi atas kebiasaan menggunjing (gibah), menyebarkan dugaan (fitnah), dan longgarnya etika dalam berbicara. Lebih dari sekadar kritik sosial, puisi ini juga menjadi catatan diri dan pengingat bahwa setiap orang rentan tergelincir dalam kebiasaan membicarakan orang lain tanpa menyadari dampaknya.
Inspirasi puisi ini merujuk pada QS. Al-Hujurat ayat 12 yang mengibaratkan gibah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Gambaran tersebut menegaskan betapa seriusnya dampak ucapan yang merusak kehormatan manusia.
Selain itu, QS. An-Nahl ayat 125 menjadi dasar etika komunikasi dalam puisi ini, yang menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk menyeru kepada jalan Tuhan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan cara berdialog yang lebih santun. Ayat ini mengajarkan bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga menjaga kebijaksanaan, empati, dan kebaikan dalam cara penyampaiannya.
Puisi ini juga berangkat dari hadis Nabi Muhammad saw. riwayat Muslim:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran keimanan tidak hanya terletak pada ibadah ritual, tetapi juga pada sejauh mana seseorang mampu menghadirkan rasa aman bagi orang lain melalui ucapan dan tindakannya.
Puisi ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan sebagai pengingat bahwa lisan memiliki konsekuensi moral yang besar. Dalam banyak kasus, kerusakan hubungan sosial tidak lahir dari tindakan besar, melainkan dari percakapan kecil yang dianggap sepele.
Semoga puisi ini menjadi ajakan untuk lebih berhati-hati dalam berbicara, serta kembali menempatkan kata sebagai jalan kebaikan dan penjaga martabat manusia.
Pesta di Atas Bangkai
Puisi Dakwah Karya Devi Virhana
Apakah telah sampai berita ini kepadamu?
Tentang sebuah perjamuan
yang tak pernah sepi pengunjung
Tentang daging yang terus dikunyah,
meski telah membusuk
Mula-mula hanya prasangka
Lalu mata mulai mencari celah
Mengumpulkan yang retak dari hidup orang lain
Mencomot serpihan kesalahan
untuk dijadikan bahan perbincangan
Di antara lorong-lorong, berkas-berkas,
dan pintu yang setengah tertutup,
bisik-bisik itu
selalu menemukan telinganya
Bukankah lidah dianugerahkan untuk menumbuhkan hikmah?
Mengapa ia justru menjadi belati yang memecah belah?
Melukai mata hati melumat kebaikan, menjadikan tawa tumbuh dari cela-mencela
Keakraban yang disusun dari dugaan semata
Katanya…
Konon…
Aku dengar…
Barangkali…
Lidah-lidah itu bekerja mencabik yang tak hadir
Menguliti yang tak mampu membela diri
Mengunyah kehormatan yang dibangun bertahun-tahun dengan susah payah
Tak ada yang merasa sedang membunuh
Padahal ada nama baik yang disembelih
Sebab lidah yang terlalu sering mengumbar aib
Perlahan kehilangan rasa pada kebenaran
Dan ketika percakapan usai,
kita pulang dengan perut yang terasa biasa
Padahal masih ada serpihan kehormatan
yang terselip di sela-sela gigi
Tuhan dengan segala firmanNya telah menjaga kita
Namun manusia tak melihatnya sebagai tanda- tanda kematangan jiwa
Berbuat semaunya tanpa kalkulasi timbangan dosa
Berpesta pora di atas bangkai saudaranya
Hari ini, peringatan itu datang
Sebelum ajal tiba dikerongkongan dan mencekik tanpa perhitungan
Malaikat datang menghantam dengan pertanyaan-pertanyaan
Kiranya kita mengingat kembali apa yang akan dipertanggungjawabkan
Tentang penulis
Penulis merupakan lulusan Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam yang berkecimpung dalam bidang komunikasi, kebahasaan, dan kesastraan. Ia juga aktif dalam pengembangan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bagi Penutur Asing melalui ruang belajar mandiri (BIPA Pertiwi) yang ia dirikan sebagai bentuk pengabdian dan diplomasi bahasa Indonesia bagi penutur asing dari berbagai negara.


![[PUISI] Pesta di Atas Bangkai](https://i0.wp.com/faktanesia.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-19-at-21.49.48.jpeg?fit=710%2C493&ssl=1)