faktanesia id, – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pemilihan Rois Aam PBNU menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian luas.
Posisi ini dinilai sangat strategis karena menentukan arah kebijakan keagamaan dan moral organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Katib Syuriyah PBNU sekaligus Pembina Yayasan Generasi Al-Qur’an, Dr. H. Ikhsan Abdullah, SH, MH, menegaskan bahwa pemilihan Rois Aam harus didasarkan pada kriteria yang jelas agar menghasilkan pemimpin yang benar-benar mampu menjalankan amanah organisasi.
“Sebagai pimpinan tertinggi jam’iyyah dan pengendali arah organisasi, Rois Aam memiliki peran strategis. Rois Aam bukan hanya simbol keulamaan, tetapi juga penentu kebijakan syar’i dan moral organisasi. Karena itu, perlu ada kesepakatan kriteria yang jelas agar sosok yang terpilih benar-benar mencerminkan Ahlu al-Halli wal ‘Aqdi,” ujarnya di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Menurut Ikhsan, terdapat lima kriteria utama yang perlu menjadi acuan dalam memilih Rois Aam PBNU.
Ahli Fiqih
Kriteria pertama adalah memiliki kedalaman ilmu agama, khususnya di bidang fiqih.
“Rois Aam harus memiliki kedalaman ilmu agama, khususnya di bidang fiqih. Beliau diharapkan mampu menjadi rujukan umat dalam persoalan ibadah, muamalah, dan masalah-masalah kontemporer dengan berpijak pada manhaj Aswaja,” kata Ikhsan.
Berpengalaman di NU
Selain menguasai ilmu agama, calon Rois Aam juga harus memahami kultur dan dinamika organisasi Nahdlatul Ulama.
“NU adalah organisasi besar dengan struktur dari PBNU hingga Ranting sampai akar rumput. Oleh karena itu Rois Aam harus memahami kultur, sistem, dan dinamika organisasi NU, serta memiliki pengalaman nyata dalam menggerakkan jam’iyyah,” tegas Ikhsan.
Siap Mengabdi
Ikhsan menilai jabatan Rois Aam membutuhkan dedikasi penuh.
“Jabatan Rois Aam menuntut dedikasi penuh. Dibutuhkan sosok yang bersedia mewakafkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengurus umat dan organisasi, bukan sekadar formalitas,” tutur Ikhsan.
Ia juga menekankan pentingnya memenuhi seluruh ketentuan organisasi.
“Calon harus memenuhi seluruh persyaratan yang telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU, termasuk kapasitas keilmuan, pengalaman, dan integritas. Serta memiliki wawasan kebangsaan yang luas,” tambahnya.
Jaga Independensi
Kriteria terakhir dinilai menjadi salah satu yang paling penting karena berkaitan dengan hubungan ulama dan pemerintah.
“Rois Aam harus mampu menjaga komunikasi dan hubungan baik dengan Umaro atau Pemerintah demi kemaslahatan bangsa. Di samping harus tetap kritis dan berani bersikap ketika ada kebijakan negara yang tidak berpihak kepada rakyat, tidak melindungi Umat atau berpotensi merugikan negara. Ini adalah cerminan semangat Hubbul Wathon Minal Iman dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar,” ujarnya lagi.
Menurut Ikhsan, hubungan yang harmonis dengan pemerintah tetap harus dibarengi dengan keberanian menyampaikan kritik demi kepentingan umat dan bangsa.
Ia berharap Muktamar ke-35 NU mampu memilih sosok Rois Aam yang memenuhi seluruh kriteria tersebut.
“Dengan kriteria ini, diharapkan proses pemilihan Rois Aam di Muktamar NU yang ke-35 nanti akan menghasilkan pemimpin yang tidak hanya alim, tetapi juga bijak, berpengalaman, dan memiliki komitmen kebangsaan. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada para masyayikh dan pengurus untuk memilih pemimpin terbaik bagi NU dan umat,” pungkasnya.


