faktanesia.id, – Peran musyrif dan musyrifah di pesantren kini tidak lagi dipandang sebatas pendamping keseharian santri, tetapi menjadi salah satu kunci utama dalam membangun kualitas pendidikan sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pesantren.
Menyadari pentingnya posisi tersebut, Yayasan Perguruan Islam Darul Hikmah (YAPIDH) bekerja sama dengan Kafa Institute menggelar Training Kepengasuhan dan Marketing Pesantren sebagai langkah strategis menghadapi tahun ajaran 2026/2027 di Bekasi pada Minggu (12/7/2026).
Pelatihan yang berlangsung di Bekasi ini menghadirkan pendekatan berbeda, yakni menggabungkan peningkatan kapasitas kepengasuhan dengan kemampuan membangun citra positif pesantren di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut diikuti oleh koordinator pesantren, kepala pesantren YAPIDH Bekasi dan Sentul, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, perwakilan wali kelas, serta seluruh musyrif dan musyrifah.
Pelatihan dipandu oleh Coach Ibrahim Mandres dan MR. POH dengan tujuan meningkatkan kompetensi pengasuh santri, memperkuat kualitas layanan pendidikan, sekaligus memperluas kepercayaan publik terhadap pesantren.
Ujung Tombak Santri
Koordinator Pesantren YAPIDH, Dr. Lutfi Firdaus, M.A., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa musyrif dan musyrifah memiliki posisi strategis karena menjadi sosok yang paling dekat dengan kehidupan santri sehari-hari.
“Musyrif bukan hanya pendamping, tetapi juga teladan dan pemberi solusi bagi berbagai persoalan santri. Keberhasilan pembinaan di pesantren sangat ditentukan oleh kualitas para musyrif,” ujarnya.
Menurut Lutfi, pembinaan santri tidak cukup hanya mengandalkan sistem dan aturan pesantren. Kualitas sumber daya manusia yang menjalankan proses pengasuhan menjadi faktor penting dalam membentuk karakter dan kepribadian santri.
Ia juga menekankan bahwa peningkatan kompetensi para pendidik harus menjadi agenda berkelanjutan.
Menurutnya, jika perusahaan yang menghasilkan produk fisik secara rutin meningkatkan kapasitas pegawainya, maka pesantren yang memiliki tanggung jawab mencetak sumber daya manusia sebagai pilar peradaban harus memberikan perhatian yang jauh lebih besar terhadap pengembangan kompetensi para pendidiknya.
Strategi Pesantren Modern
Pelatihan selama dua hari tersebut tidak hanya membahas aspek teknis pengasuhan, tetapi juga memperkenalkan strategi komunikasi dan pemasaran pesantren yang relevan dengan tantangan zaman.
Materi yang diberikan mencakup pendekatan komunikasi dengan santri dan wali santri, membangun keteladanan, penguatan disiplin, hingga strategi membangun persepsi positif terhadap pesantren.
Pendekatan ini menjadi penting karena pesantren saat ini tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang memiliki pemahaman agama kuat, tetapi juga mampu memberikan pengalaman pendidikan yang berkualitas kepada santri dan keluarga mereka.
Kemampuan musyrif dalam berkomunikasi, memahami kebutuhan santri, serta membangun hubungan baik dengan orang tua menjadi bagian dari wajah pelayanan pesantren di era modern.
Respons Peserta Positif
Berdasarkan 31 testimoni peserta, pelatihan tersebut mendapat respons positif. Mayoritas peserta menilai materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan lapangan, mudah dipahami, serta memberikan sudut pandang baru dalam menjalankan tugas kepengasuhan.
Sejumlah peserta mengungkapkan bahwa pelatihan membantu mereka menemukan solusi atas berbagai tantangan yang selama ini dihadapi, mulai dari membangun kedisiplinan santri, meningkatkan komunikasi dengan orang tua, hingga memahami peran musyrif sebagai figur pengganti orang tua selama santri berada di lingkungan pesantren.
Peserta juga berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin dan melibatkan seluruh unsur pendidikan di lingkungan YAPIDH, mulai dari guru, tenaga kependidikan, hingga seluruh sivitas pesantren.
Mereka meyakini peningkatan kapasitas seluruh elemen pesantren akan berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan, pelayanan, serta lahirnya generasi santri yang berkarakter, unggul, dan berakhlak mulia.
Pelatihan ini sekaligus menunjukkan bahwa masa depan pesantren tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan fasilitas, tetapi juga oleh kualitas manusia yang berada di balik proses pendidikan tersebut. Musyrif yang profesional menjadi investasi penting dalam mencetak generasi penerus yang mampu membawa nilai-nilai Islam ke tengah masyarakat.


