Nama Ulta Levenia Nababan mendadak jadi perbincangan hangat. Ia menjadi sasaran hujatan ad hominem dari salah satu profesor, usai penjelasannya soal 20 poin rencana perdamaian Gaza yang diusung Board of Peace (BoP) menuai pro dan kontra di ruang publik.
Di tengah derasnya kritik, publik mulai bertanya: siapa sebenarnya sosok Ulta Levenia yang kini berada di garis depan menjelaskan isu sensitif Gaza?
Peneliti Konflik Global
Ulta bukan nama baru dalam kajian keamanan internasional. Ia dikenal sebagai peneliti yang fokus pada isu kontra-terorisme, insurgensi, dan konflik global.
Rekam jejaknya menunjukkan pengalaman langsung di berbagai wilayah konflik berisiko tinggi, seperti Afghanistan, Filipina Selatan, Aceh, hingga Papua. Pengalaman ini memberinya perspektif lapangan yang kuat dalam membaca dinamika konflik bersenjata.
Selain itu, Ulta aktif menulis dan mempublikasikan analisis di berbagai media nasional maupun internasional. Tulisannya kerap membahas jaringan terorisme, radikalisme, hingga dampak krisis global terhadap stabilitas keamanan kawasan.
Latar Pendidikan Internasional
Secara akademik, Ulta memiliki fondasi yang kuat di bidang keamanan. Ia meraih gelar Master (M.A.) dalam studi insurgensi dan terorisme dari University of Leeds.
Tak hanya itu, ia juga mengikuti program studi keamanan Indo-Pasifik di lembaga pertahanan Prancis, serta menyelesaikan pendidikan sarjana ilmu politik di Universitas Indonesia.
Ulta tercatat sebagai penerima dua beasiswa prestisius dunia, yakni Chevening Scholarship dan Fulbright Scholarship, sebuah pengakuan atas kapasitas akademik dan kepemimpinannya di level global.
Karier di Dunia Keamanan
Dalam perjalanan kariernya, Ulta berkiprah di berbagai lembaga strategis, mulai dari think tank hingga institusi negara. Ia pernah menjadi peneliti di pusat studi kontra-terorisme dan radikalisme Polri, konsultan keamanan, hingga terlibat dalam riset di sejumlah lembaga nasional dan internasional.
Kini, ia menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP), posisi yang menempatkannya dekat dengan pengambilan kebijakan strategis negara.
Ulta juga aktif menjadi narasumber di berbagai forum internasional, seminar, dan diskusi yang membahas isu keamanan global dan ideologi.
Masuk Lingkaran Kebijakan

Selain sebagai peneliti, Ulta memiliki pengalaman dalam komunikasi politik dan kebijakan publik. Ia sempat terlibat dalam Tim Kampanye Nasional pada Pemilu 2024, serta masuk dalam daftar “40 under 40” tokoh muda inspiratif.
Perannya di KSP menjadikannya salah satu figur yang menjembatani isu global dengan kebijakan pemerintah, termasuk dalam konteks Palestina dan Gaza.
Kontroversi BoP Gaza
Penjelasan Ulta terkait 20 poin Board of Peace (BoP) tentang masa depan Gaza memicu respons beragam.
Sebagian kalangan menilai pemaparannya membuka perspektif baru dalam melihat upaya diplomasi internasional untuk Palestina. Namun, tidak sedikit pula yang melontarkan kritik tajam, bahkan hujatan personal, terutama terkait kecurigaan terhadap peran Amerika Serikat dalam inisiatif tersebut.
Di tengah polemik, Ulta menegaskan pentingnya membaca dokumen secara utuh dan objektif, serta tidak terjebak dalam arus disinformasi yang dapat memperkeruh situasi.
Figur Teknis di Isu Sensitif
Dengan latar belakang sebagai peneliti konflik global, Ulta berada dalam posisi yang tidak mudah. Ia harus menjelaskan isu teknis yang kompleks kepada publik yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap persoalan Palestina.
Kontroversi yang muncul menunjukkan bahwa isu Gaza bukan sekadar persoalan geopolitik, tetapi juga menyangkut emosi, solidaritas, dan persepsi publik yang kuat, terutama di Indonesia.
Terlepas dari pro dan kontra, sosok Ulta Levenia mencerminkan bahwa di balik narasi kebijakan luar negeri, ada aktor-aktor teknis dengan kapasitas akademik dan pengalaman lapangan panjang yang bekerja di garis depan.


