FAKTANESIA.ID | JAKARTA TIMUR – Suasana khutbah Jumat di musala Gedung PP Dewan Masjid Indonesia, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (24/4/26), berlangsung tenang dan penuh perhatian dari para jamaah. Dalam kesempatan itu, Wakil Sekretaris Jenderal PP DMI, Mukhtadi, menyampaikan khutbah yang menyinggung persoalan lama yang menurutnya belum juga selesai, yakni soal persatuan umat Islam.
Sejak awal khutbah, ia mengajak jamaah melihat persoalan umat secara jujur. Ia menyebut, jumlah yang besar tidak otomatis menjadi kekuatan jika tidak dibarengi dengan kebersamaan yang kuat di antara sesama.
Dalam penjelasannya, Mukhtadi mengingatkan bahwa ajaran Islam sejak awal sudah menekankan pentingnya persatuan, namun dalam praktiknya sering kali sulit diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari umat.
“Kelemahan orang Islam itu paling susah kalau diajak bersatu. Padahal dalam Ali Imran 103 itu jelas, waqtasimu, bersatu,” ujarnya.
Ia kemudian menyinggung kenyataan yang kerap terjadi di tengah masyarakat, di mana kebersamaan justru mudah ditemukan dalam hal-hal yang tidak baik, termasuk praktik korupsi yang melibatkan lebih dari satu orang.
“Silahkan tanya, korupsi itu tidak berdiri sendiri, pasti bersatu. Tidak ada orang korupsi sendiri,” tegasnya.
Untuk memperjelas pesannya, Mukhtadi mengajak jamaah menengok sejarah perjuangan bangsa. Ia mencontohkan perjuangan Pangeran Diponegoro yang, menurutnya, tidak selalu gagal karena kekurangan orang, tetapi karena adanya pengkhianatan dari dalam.
“Bukan tidak ada, banyak. Tapi perjuangannya tidak berhasil. Selalu gagal. Kenapa? Di antara pejuang-pejuang itu ada pengkhianat,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung kondisi saat ini yang dinilainya semakin rumit. Di era digital, menurutnya, menjaga kebersamaan sekaligus kepercayaan menjadi tantangan tersendiri karena informasi bisa dengan mudah tersebar.
“Sekarang dengan mudah pada saat rapat, dia klik-klik, rahasia sudah keluar,” ujarnya.
Mukhtadi lalu mengaitkan hal tersebut dengan kondisi bangsa. Ia menilai nilai persatuan yang menjadi bagian dari Pancasila belum sepenuhnya terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
“Dasar negaranya masih ada, tapi persatuannya menjadi barang langka yang sulit untuk ditemukan di negara republik ini,” katanya.
Ia juga menyoroti besarnya jumlah umat Islam di Indonesia yang seharusnya bisa menjadi kekuatan besar, namun belum memberi dampak signifikan karena lemahnya persatuan.
“Jumlah umat Islam itu mayoritas di republik ini, sekitar 185 juta dari 284 juta. Tapi cukup dikerjain oleh satu orang,” ujarnya.
Di bagian akhir, ia menyinggung perubahan cara berjuang di zaman sekarang yang tidak lagi terbatas di mimbar, tetapi juga berlangsung di ruang digital.
“Sekarang jihadnya bukan di mimbar seperti gini. Jihadnya di media sosial. Itulah ajian kita,” jelasnya.
Menutup khutbahnya, Mukhtadi kembali mengingatkan hal yang menurutnya paling mendasar, yakni pentingnya menjaga persatuan sebagai kunci kekuatan umat.
“Intinya, mari kita bersatu dan jangan bercerai-beraik. Karena hanya bersatu itulah maka kita menjadi kuat,” pungkasnya.


