Nama Ploso kembali menjadi saksi sejarah. Di bumi pesantren yang diberkahi itu, Munas dan Konbes NU baru saja tuntas dengan khidmat. Ayat-ayat suci menggema, doa para ulama dipanjatkan, dan ribuan peserta dari berbagai daerah, termasuk Bangkalan, Bumi Syaichona Kholil, hadir membawa semangat pengabdian.
Dalam catatan Dr. H. Ikhsan Abdullah, SH, MH, Katib Syuriyah PBNU, Ploso bukan sekadar tempat berkumpul. Ia adalah ruang spiritual yang mengingatkan NU pada akar perjuangannya: ilmu, adab, dan persatuan.
“Alhamdulillah, Ploso telah jadi saksi. Munas & Konbes mumtaz, hati berseri,” tulis Ikhsan dalam puisinya “Dari Ploso Menuju Muktamar”.
Menuju Muktamar, Lima Wilayah Siap Jadi Tuan Rumah
Perjalanan NU kini mengarah pada Muktamar. Lima wilayah telah menyatakan kesiapan, yakni NTB, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera Barat.
Bagi Dr. Ikhsan, semuanya adalah rumah NU. Tidak ada yang lebih utama, karena setiap wilayah memikul amanah yang sama: menghidupkan NU untuk umat.
“Lima Wilayah siap jadi tuan, sejati… Semuanya rumah NU semuanya bermakna untuk NU,” tegasnya.
Beda Adalah Rahmat, Gaduh Adalah Larangan
Yang menarik dari dawuh Katib Syuriyah ini adalah penekanan pada adab ber-NU. Beliau mengingatkan bahwa perbedaan pilihan dalam berorganisasi adalah hal yang wajar, bahkan sunatullah. Namun, yang tidak boleh terjadi adalah kegaduhan.
“Beda pilihan itu wajar saja. Tapi jangan gaduh,” ujarnya.
“Untuk itu, alfakir mendorong agar survei dilakukan secara baik, adil, dan hasilnya dijadikan rujukan bersama. Kuncinya satu, yakni mengedepankan ukhuwah,” pungkas Ikhsan.
Satu Barisan untuk Agama, Bangsa, dan Negara
Puisi itu ditutup dengan seruan untuk melangkah ke Muktamar dengan hati yang riang gembira. Bukan dengan curiga, bukan dengan dendam, tetapi dengan satu barisan dan satu cita.
Karena tujuan NU tidak pernah berubah: untuk agama, bangsa, dan negara.
“Mari ke Muktamar dengan semangat riang gembira. Satu barisan, satu cita. Untuk NU, untuk Indonesia,” tambahnya.
Di tengah dinamika menjelang Muktamar, puisi dan gagasan Dr. Ikhsan Abdullah menjadi pengingat bahwa NU besar karena mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan. Dan selama semangat Ploso itu masih hidup, insyaAllah NU akan terus menjadi penyejuk negeri. Wallahu a’lam bish-shawab.


