Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah arah penelitian pascasarjana. Namun, kemajuan teknologi dinilai tidak cukup jika tidak diimbangi nilai kemanusiaan yang menjadi dasar penggunaan ilmu pengetahuan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam 10th International Conference on Postgraduate Research 2026 (10th ICPR 2026) yang digelar Pusat Pengajian Siswazah (PPS), Universiti Islam Selangor (UIS), pada 1–2 September 2026 di Hansa JB Hotel, Hatyai, Thailand.
Dosen Tetap Institut Muslim Cendekia (IMC), Abdurrahman Hilabi, M.Pd., turut menghadiri konferensi internasional tersebut. Forum yang berlangsung secara hibrid itu mengangkat tema “Human Values and Artificial Intelligence (AI): Shaping Postgraduate Research Excellence”, dengan mempertemukan akademisi dan peneliti dari lima negara.
AI dan Nilai
Tema konferensi menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dalam merespons perkembangan AI. Teknologi tidak hanya dipandang sebagai instrumen untuk mempercepat pekerjaan akademik, tetapi juga menghadirkan tantangan terhadap integritas, etika, dan orientasi penelitian.
Perspektif tersebut menjadi relevan bagi perguruan tinggi Islam dalam mengembangkan penelitian yang mampu mengikuti transformasi teknologi tanpa kehilangan pijakan nilai.
Jejaring Lintas Negara
10th ICPR 2026 melibatkan delapan institusi pendidikan tinggi dari Indonesia, Brunei, Thailand, dan Singapura. Di antaranya Universitas Ibn Khaldun Bogor, Universitas Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas, Universitas Islam Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM, Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Universiti Princess of Naradhiwas, Universiti Prince of Songkla, serta Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri Singapura.
Konferensi menghimpun 137 peserta, terdiri atas 123 pembentang dan 14 peserta dari Malaysia, Indonesia, Brunei, Thailand, dan Singapura.
Peluang Kolaborasi
Forum tersebut juga menghadirkan akademisi internasional, di antaranya Profesor Dr. Rozanah Ab. Rahman dari UIS dan Profesor Madya Dr. Try Widoyono dari Universitas Islam Jakarta sebagai pembicara utama.
Bagi IMC, keikutsertaan dalam forum internasional ini membuka ruang memperluas jejaring penelitian sekaligus mendorong sivitas akademika untuk terlibat dalam percakapan keilmuan global.
Partisipasi Abdurrahman Hilabi menjadi bagian dari upaya IMC memperkuat budaya akademik dan kolaborasi penelitian lintas negara.
Lebih jauh, forum tersebut memperlihatkan tantangan perguruan tinggi Islam ke depan: bukan sekadar mampu menggunakan AI, tetapi memastikan teknologi tersebut tetap diarahkan untuk menghasilkan ilmu yang berintegritas, relevan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, penguatan jejaring akademik internasional dapat menjadi modal bagi IMC untuk mengembangkan kajian keislaman yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.


