FAKTANESIA.ID | NEW HAVEN, AS — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), menegaskan bahwa nilai kemanusiaan harus menjadi landasan utama dalam menghadapi krisis global, mulai dari konflik bersenjata hingga bencana alam. Ia juga mengingatkan pentingnya perencanaan dan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi dampak bencana sebelum meluas menjadi krisis kemanusiaan.
Pesan tersebut disampaikan JK saat memberikan kuliah umum bertajuk Conflict Resolution and Peacebuilding, as well as Humanitarian and Disaster Response in Pluralistic Indonesia di Linsly-Chittenden Hall, Yale University, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, Jumat (23/10/26) petang waktu setempat.
Di hadapan sekitar 100 mahasiswa dan dosen Yale, JK menjelaskan bahwa berbagai krisis yang dihadapi dunia saat ini saling berkaitan. Konflik bersenjata, ancaman bencana alam, dan persoalan ketahanan pangan dapat menimbulkan dampak yang melampaui batas wilayah suatu negara.
“Kemanusiaan harus menjadi paradigma utama kita dalam menghadapi krisis global. Kemanusiaan melampaui batas negara, ras, etnis, agama, dan afiliasi apa pun. Selama rasa kemanusiaan menjadi titik tolak kita, krisis global dapat kita hadapi dan atasi bersama,” ujar JK.
Menurut JK, pendekatan kemanusiaan harus berjalan beriringan dengan upaya penyelesaian konflik, pembangunan perdamaian, dan kesiapan menghadapi bencana. Persoalan global tidak cukup ditangani melalui kekuatan ekonomi, teknologi, atau militer, tetapi juga membutuhkan kerja sama dan pemahaman terhadap akar masalah.
Dalam kuliahnya, JK turut menyoroti perubahan dinamika kekuatan militer dunia. Ia menilai keunggulan persenjataan modern tidak selalu menjamin kemenangan dalam konflik. Semangat, strategi, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi juga menjadi faktor penting.
JK mencontohkan perang Rusia-Ukraina yang berlangsung berkepanjangan, kemampuan Iran bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, serta ancaman kelompok bersenjata Houthi terhadap negara-negara di kawasan Teluk.
“Perkembangan konflik saat ini menunjukkan bahwa keunggulan persenjataan saja tidak cukup. Semangat, strategi, serta kemampuan menguasai dan mengoperasikan teknologi juga sangat menentukan. Karena itu, ilmu pengetahuan dan kemampuan manusia menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan,” kata JK.
Ia menilai pengalaman dari berbagai konflik tersebut menjadi pengingat bahwa penyelesaian persoalan keamanan tidak cukup mengandalkan kekuatan militer. Pemahaman terhadap akar konflik, kemampuan membangun dialog, dan pendekatan kemanusiaan tetap diperlukan untuk membuka jalan menuju perdamaian.
Selain konflik bersenjata, JK mengingatkan ancaman bencana alam yang dapat memicu persoalan kemanusiaan dalam skala luas. Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah fenomena iklim seperti El Niño, yang dapat menyebabkan kekeringan, mengganggu produksi pertanian, dan meningkatkan risiko kelangkaan pangan.
Sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), JK menekankan bahwa dampak bencana tidak berhenti di wilayah yang mengalaminya secara langsung. Penurunan produksi pertanian dan kegagalan panen dapat mengganggu pasokan pangan serta memicu kenaikan harga yang berdampak pada masyarakat luas.
“Bencana kekeringan tidak hanya berdampak pada daerah yang mengalaminya. Ketika produksi pertanian menurun dan panen gagal, dampaknya bisa meluas menjadi persoalan pangan. Karena itu, kita harus mengantisipasinya melalui perencanaan yang matang dan perhitungan yang cermat,” ujar JK.
Menurutnya, kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi. Pemerintah perlu memperhitungkan potensi risiko, menyiapkan langkah mitigasi, dan menyusun rencana penanganan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan setiap wilayah.
Perencanaan sejak dini diperlukan agar dampak bencana dapat ditekan, terutama ketika ancaman alam berpotensi mengganggu ketahanan pangan dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.
JK juga menyoroti karakteristik geografis Indonesia yang membuat setiap daerah menghadapi risiko bencana berbeda. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman di sejumlah wilayah Kalimantan, sedangkan banjir, tanah longsor, dan gempa bumi merupakan risiko yang perlu diantisipasi di berbagai daerah di Jawa dan Sumatra.
Ia mengingatkan bahwa satu jenis bencana dapat meningkatkan risiko bencana lainnya. Karhutla pada musim kemarau, misalnya, dapat memperbesar risiko banjir dan tanah longsor ketika musim hujan tiba.
Karena itu, menurut JK, penanganan bencana harus didasarkan pada pemetaan risiko dan perencanaan yang sistematis, bukan sekadar tindakan sesaat ketika bencana sudah terjadi.
“Ini tantangan besar bagi Indonesia. Penanganan bencana tidak boleh hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi, karena setiap bencana akan membawa bencana lainnya. Seperti karhutla pada musim kemarau dapat mengakibatkan banjir dan longsor pada musim hujan. Harus ada program dan perencanaan yang sistematis, berdasarkan pemetaan risiko dan kondisi masing-masing daerah. Jangan sampai penanganannya hanya sporadis,” tegas JK.
Ia menambahkan, penanggulangan bencana membutuhkan koordinasi antarlembaga, kesiapan sumber daya manusia, perencanaan logistik, serta kemampuan memperkirakan dampak terhadap masyarakat dan perekonomian.
Dengan pendekatan tersebut, penanganan bencana tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga mencakup mitigasi, pengurangan risiko, dan pencegahan untuk meminimalkan dampak yang lebih luas.
Kuliah umum di Yale University menjadi bagian akhir dari rangkaian agenda akademik JK di Amerika Serikat pada Oktober 2026. Sebelumnya, JK mengisi Vice President Kalla Lecture Series di Northern Illinois University (NIU), DeKalb, Illinois, selama sekitar dua pekan.
Di NIU, JK membahas berbagai persoalan, mulai dari otonomi daerah dan dinamika politik Indonesia hingga pengalaman penyelesaian konflik di Aceh, Afghanistan, dan Thailand Selatan. Ia juga mengulas tantangan transisi energi hijau.
Pada 20 Oktober, JK menerima penghargaan khusus dari NIU dalam acara pelepasan tugasnya sebagai dosen tamu.
Selanjutnya, pada 22 Oktober, JK memberikan kuliah di Harvard University dengan tajuk Leadership Amidst Uncertainty: Lessons from Experience. Dalam forum tersebut, ia menguraikan berbagai faktor yang memengaruhi ketidakpastian global dan kondisi sosial-ekonomi Indonesia.
Rangkaian kuliah di NIU, Harvard University, dan Yale University menjadi kesempatan bagi JK untuk membagikan pengalaman Indonesia dalam menghadapi konflik, membangun perdamaian, serta menangani persoalan kemanusiaan kepada komunitas akademik internasional.
Dari ketiga forum tersebut, pentingnya kerja sama, pemahaman terhadap akar persoalan, nilai kemanusiaan, dan perencanaan yang matang menjadi pesan utama dalam menghadapi tantangan global. Upaya menjaga perdamaian dan melindungi masyarakat, baik dari konflik maupun bencana, membutuhkan kesiapan serta komitmen bersama yang melampaui batas negara dan perbedaan identitas


