Penetapan tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi momentum kebangkitan intelektual di tubuh organisasi pelajar tertua di Indonesia.
Jejak Panjang PII: Dari Pelajar untuk Bangsa
Didirikan pada 4 Mei 1947 di Yogyakarta, Pelajar Islam Indonesia lahir di tengah situasi revolusi kemerdekaan. Sejak awal, PII memposisikan diri sebagai gerakan kaderisasi pelajar yang tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kesadaran keislaman.
Dalam perjalanannya, PII telah melahirkan banyak tokoh bangsa dari berbagai bidang, mulai dari ulama, akademisi, hingga pemimpin nasional.
Kiprahnya tidak hanya terlihat dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam advokasi sosial, dakwah pelajar, hingga kontribusi pemikiran bagi pembangunan bangsa.
Melalui sistem kaderisasi berjenjang, dari Basic Training hingga Leadership Advance Training, PII dikenal sebagai “sekolah kepemimpinan” yang menanamkan nilai intelektualitas, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.
Cendekiawan LPDP di Pucuk Kepemimpinan
Nama Amsal mencuat bukan hanya karena kiprah organisasinya, tetapi juga kualitas akademiknya.
Ia merupakan kandidat doktor Ekonomi Syariah di Universitas Syiah Kuala melalui beasiswa LPDP.
“Amsal adalah antitesis dari anggapan bahwa aktivis sering abai terhadap studi. Ia membuktikan bahwa memimpin ribuan kader bisa berjalan beriringan dengan riset doktoral,” ujar salah satu delegasi senior yang menghadiri muktamar, Dipasaguna.
Diplomasi Sunyi, Dampak Mendunia

Sebelum terpilih pada 15 Februari 2026, Amsal menjabat sebagai Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri PB PII. Di bawah kepemimpinannya, PII berhasil memperluas jejaring global dengan membentuk tujuh kantor perwakilan luar negeri hanya dalam satu tahun, capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dari Akar Rumput ke Panggung Nasional
Ditempa dari Bireuen, Aceh, Amsal menapaki jenjang kepemimpinan secara bertahap, dari komisariat sekolah, tingkat daerah, hingga memimpin wilayah Aceh. Proses panjang ini membentuk karakter kepemimpinan yang dikenal “berkarya dengan hati”.
Kini, dengan mandat di tangan, tantangan besar menanti. Amsal diharapkan mampu menjadikan PII sebagai laboratorium intelektual yang adaptif di era digital, tanpa kehilangan ruh keislamannya.
Di bawah nahkoda doktor muda ini, PII tampak bersiap melangkah lebih jauh, menuju panggung global dengan wajah baru yang lebih intelektual dan progresif, sekaligus melanjutkan warisan panjangnya dalam membangun bangsa melalui pelajar.


