faktanesia.id, – Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri memperjuangkan bantuan 40 unit traktor untuk petani Cirebon dalam setahun.
“Meski belum semua petani terfasilitasi,” ungkap Guru Besar IPB itu.
Rokhmin Dahuri menyampaikan pernyataan tersebut saat meninjau Kelompok Madu Tani II yang diketuai Piroh di Desa Gebang Udik dan Desa Gebang Kulon, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat Minggu (15/2/2026).
Menurutnya, kunjungannya tersebut menjadi momentum penting untuk melihat langsung dampak bantuan traktor roda empat bagi petani.
Ia mengatakan traktor yang telah digunakan selama tiga bulan terbukti sangat efisien.
Ia mengatakan sebuah traktor bisa mengolah 1 hektare lahan hanya beberapa jam dari pukul 07.00–13.00 WIB.
“Lamanya lima hari jika memakai kerbau,” kata Rokhmin sapaan mantan Menteri Kelautan ini.
Menurut Rokhmin bantuan traktor yang sudah diberikan harus dirawat dengan baik.
Ia menegaskan jika para petani mengalami kendala segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian yang ada.
“Agar usaha tidak menurun,” ucap Anggota DPR RI Dapil Jawa Barat VIII yang meliputi Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon ini.
Rokhmin menegaskan bahwa kemajuan pertanian bertumpu pada kebijakan kredit yang murah dan mudah diakses.
Menurutnya kemajuan itu juga harus didukung dengan pembangunan infrastruktur, peningkatan teknologi, dan jaminan sarana produksi.
“Dan harga pasar (yang bagus),” kata Rokhmin.
Ia menambahkan, dengan data yang kuat, sinergi kebijakan, dan keberpihakan nyata, kesejahteraan petani bukan sekadar harapan.
“Tetapi target yang bisa diwujudkan,” ujar Rokhmin.
Menurut Rokhmin Kelompok Tani yang ia kunjungi ini menggarap ±30 hektare lahan di Gebang Udik.
Ia mengatakan komoditas utama yang digarap kelompok itu adalah padi (100 hari), bawang merah (3 bulan), jagung (2 bulan) dan tebu.
Ia mengatakan permodalan bawang merah mencapai sekitar Rp150 juta dengan potensi keuntungan hingga Rp50 juta per panen.
Menurutnya produksi padi mencapai ±7 ton gabah per hektar dengan harga Rp 6.500/kg.
Menurut Rokhmin data permodalan dan keuntungan kelompok ini penting dicatat secara tertulis sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Rokhmin menyatakan di balik capaian produksi tersebut, masih ada tantangan nyata.
Menurutnya tantangannya adalah mekanisme pembelian solar bersubsidi yang harus menggunakan barcode.
Ia mengatakan penggunaan barcode membuat petani kerap membeli eceran dengan selisih harga hingga Rp1.200 per liter; kebutuhan rata-rata 20 liter per hektare.
“Tentu menambah beban biaya,” tutur Rokhmin.
Menurut Rokhmin, meski pupuk subsidi kini lebih mudah diakses dan harganya menurun, persoalan infrastruktur jalan usaha tani di Gebang Udik, dan Gebang Mekar yang rusak turut menghambat distribusi hasil panen.
Pada saat yang sama seorang petani bernama Edi menyampaikan keluhannya terkait persoalan yang dihadapi petani.
Edi menyampaikan penghasilan petani hanya sekitar Rp2,75 juta per bulan, belum memiliki rumah pribadi, dan satu rumah dihuni tiga kepala keluarga.
“Akses pembiayaan perumahan masih sangat sulit,” ucap Edi.[]


