faktanesia.id — Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III bersama Universitas Paramadina menggelar Urun Rembuk Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sebagai ruang dialog strategis untuk menata arah pengembangan kampus swasta di DKI Jakarta, (Senin,29/12/25)
Forum bertema “Menata Arah Perguruan Tinggi Swasta yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan” ini berlangsung di Kampus Universitas Paramadina Cipayung, Jakarta Timur, dan dihadiri pimpinan perguruan tinggi swasta sebagai wadah merespons dinamika serta tantangan pendidikan tinggi ke depan.
Kepala LLDikti Wilayah III, Dr. Henri Tambunan, mengapresiasi kolaborasi Universitas Paramadina serta partisipasi aktif pimpinan PTS dalam forum tersebut.
“Kegiatan urun rembuk ini hadir sebagai ruang diskusi mempertemukan gagasan dan aspirasi dari perguruan tinggi untuk merespon berbagai tuntutan seperti tuntutan peningkatan mutu, transformasi digital hingga penyelarasan lulusan terhadap dunia kerja. Kemajuan pendidikan tinggi tidak dapat dilakukan secara parsial. Perlu sinergi kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Inilah wadah konstruktif kita untuk menyaring aspirasi dari para pimpinan PTS di DKI Jakarta,” ucap Dr. Henri.
Sementara itu, Sekretaris Umum Yayasan Wakaf Paramadina, Ir. Wijayanto Samirin, memaparkan perjalanan Universitas Paramadina yang menurutnya merepresentasikan dinamika banyak PTS di Indonesia.
“Kami baru bisa memiliki kampus sendiri setelah 25 tahun menyewa. Tumbuh dengan kekuatan sendiri, jatuh bangun, dan terus berjuang,” ungkapnya.
Wijayanto menilai universitas sejatinya merupakan bentuk sociopreneurship.
“Orientasinya bukan sekadar profit, tetapi dampak sosial dan peradaban,” ujarnya.
Ia menekankan perlunya kepastian iklim usaha dan regulasi yang lebih sederhana serta adil bagi sektor pendidikan swasta.
“Kita ingin Indonesia punya perwakilan di universitas terbaik dunia. Universitas swasta harus difasilitasi agar bisa berkontribusi maksimal,” pungkasnya.
Sebagai pembuka diskusi, Ledia Hanifa Amalia, M.Psi.T., Anggota Komisi X DPR RI, menegaskan posisi strategis PTS sebagai mitra negara dalam memperluas akses dan pemerataan pendidikan tinggi. Ia menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah dan pengelola kampus agar kebijakan benar-benar berdampak di lapangan.
Dari sisi kebijakan nasional, Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti Kemdiktisaintek, Prof. Mukhamad Najib, menekankan pentingnya investasi serius pada pendidikan tinggi untuk mewujudkan Indonesia maju 2045.
“Perlu sekali adanya roadmap jangka panjang agar perguruan tinggi dapat mencapai kelas dunia sehingga mampu mentransfer teknologi dan menghadirkan talenta global dalam meningkatkan kapabilitas inovasi bangsa,” jelasnya.
Ia mengungkapkan salah satu langkah konkret adalah peningkatan proporsi pendanaan penelitian PTS yang kini mencapai 60 persen.
“Porsinya sudah jauh meningkat dan lebih besar dari perguruan tinggi negeri (PTN),” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan ini bukan untuk mempertajam kompetisi, melainkan memperkuat kolaborasi.
“Kita mesti membuka paradigma bahwa keberadaan PTS ini sebagai peran kolaboratif dengan PTN melalui berbagai kerja sama tridharma,” tegasnya.
Ia mencontohkan sejumlah model kolaborasi, mulai dari fast track S1–S2 lintas PTS–PTN, pengembangan bahan ajar, pertukaran dosen dan mahasiswa, konsorsium riset, join lab, hingga KKN kolaboratif.
Pandangan tersebut disambut positif oleh Rektor Universitas Yarsi, Prof. Dr. H. Fasli Jalal, yang menilai PTS memiliki keunggulan dalam fleksibilitas dan adaptasi terhadap kebutuhan dunia kerja.
“PTS bukan sekadar pelengkap sistem, melainkan mitra strategis negara dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul, inovatif, dan berdaya saing,” ujarnya.
Ia menegaskan kontribusi besar PTS terhadap pendidikan nasional.
“Dari sekitar 9,8 juta mahasiswa di Indonesia, 46 persen berada di PTS. Ini menunjukkan peran besar PTS dalam meningkatkan taraf hidup dan ekonomi keluarga melalui pendidikan,” kata Prof. Fasli.
Menurutnya, sebagian besar program studi juga diselenggarakan oleh PTS, bahkan rasio dosen dan mahasiswa di PTS kini lebih baik dibandingkan PTN.
“Dengan data tersebut, kontribusi PTS tidak bisa dipandang sebelah mata,” tegasnya.
Urun Rembuk PTS ini menghasilkan tiga agenda utama: mengurangi kesenjangan mutu PTN–PTS, meningkatkan daya saing perguruan tinggi Indonesia di tingkat nasional dan global, serta membangun ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan.
LLDikti Wilayah III menegaskan komitmennya sebagai fasilitator strategis melalui pendampingan berkelanjutan, kebijakan adaptif, dan penguatan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, demi mewujudkan pendidikan tinggi yang selaras dengan visi Indonesia Emas 2045 serta semangat Diktisaintek Berdampak yang memberi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat.


