FAKTANESIA.ID | JAKARTA – Peringatan 50 tahun Yayasan Permata Sari atau YPS menjadi momentum refleksi perjalanan panjang sebuah ikhtiar pendidikan yang dirintis oleh sembilan aktivis perempuan Korps HMI wati atau KOHATI yang digelar di The Sanctuary Auditorium, Menara Kuningan, Jakarta, Sabtu (7/2/26). Acara ini menghadirkan kembali jejak perjuangan para pendiri YPS dalam mencerdaskan anak bangsa melalui jalur pendidikan.
Lima dekade silam, ketika sistem pendidikan anak masih cenderung konvensional, para pendiri yang berasal dari KOHATI tampil sebagai pendobrak. Dengan visi jauh ke depan dan keberanian melampaui zamannya, mereka meletakkan fondasi pendidikan yang relevan dengan perubahan sosial dan tantangan zaman. Gagasan yang dahulu dianggap berani, kini tumbuh menjadi kenyataan melalui lembaga pendidikan YPS.
Seiring waktu, sebagian para pendiri telah berpulang dan sebagian lainnya hadir dengan keterbatasan fisik. Namun nilai keikhlasan dan integritas yang ditanamkan para aktivis perempuan KOHATI tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.
Sembilan Srikandi pendiri YPS adalah Ati Taufiq Ismail, Etty Mar’ie Muhammad almarhumah, Hartini Effendi almarhumah, Ida Ismail Nasution, Ida Wahab almarhumah, Kamsanah HDM almarhumah, Rihna Azrul Azwar, Sofie Yusuf Syakir, serta Yulia Harun Kamil almarhumah.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Gubernur DKI Jakarta periode 2017 hingga 2022 Anies Baswedan, penyair senior Taufiq Ismail, pemerhati anak Seto Mulyadi atau Kak Seto, serta diplomat senior dan mantan Sekretaris Jenderal HMI Nazaruddin Nasution.
Acara diisi pemutaran video perjalanan 50 tahun YPS, pertunjukan seni oleh siswa siswi Cikal Harapan, serta testimoni dari para pendiri dan pimpinan yayasan.
Ketua Umum YPS periode 2024 sampai 2029, Fardiah Fahmid, menyampaikan bahwa saat ini YPS mengelola 11 lembaga pendidikan yang tersebar di Jakarta, Banten dan Jawa Barat dengan jumlah alumni mencapai puluhan ribu orang.
“Peringatam 50 tahun ini adalah momentum penting untuk meneguhkan kembali cita-cita para pendiri untuk visi 50 tahun ke depan, yakni terwujudnya pendidikan Islam global,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pembina YPS yang juga salah satu pendiri, Ida Ismail Nasution, mengenang perjuangan awal pendirian yayasan yang dilandasi keikhlasan para aktivis perempuan KOHATI. Salah satu kisah yang disampaikannya adalah tentang Mar’ie Muhammad, Menteri Keuangan era Presiden Soeharto yang dikenal dengan julukan Mr. Clean.
Menurut Ida, Mar’ie Muhammad pernah meminta istrinya, Etty Mar’ie Muhammad, mengembalikan bantuan donatur karena menduga bantuan tersebut tidak diberikan dengan niat tulus.
“Padahal kami sudah susah payah untuk mendapatkannya. Tapi harus dikembalikan, apa gak sedih?” kenang Ida.
Keikhlasan tersebut justru membuka jalan lain. Melalui pengelolaan divisi bazar Festival Istiqlal, YPS menjadi satu satunya divisi yang meraih keuntungan hingga 1,5 milyar rupiah.
“Setelah kami laporkan, pihak panitia mengambilnya Rp. 500 juta dan sisanya diserahkan kepada kami,” ujarnya.
Dana tersebut kemudian menjadi titik awal pembangunan Sekolah Cikal Harapan yang terus berkembang hingga kini, sekaligus menjadi simbol keteguhan nilai yang diwariskan para Srikandi KOHATI dalam perjalanan 50 tahun Yayasan Permata Sari.


