Oleh Hamdan Nugroho, Aktivis 98 Jogjakarta/Dosen Teknik Ekonomi Universitas Ibnu Chaldun Jakarta/Pengusaha UMKM
Presiden Prabowo telah mengambil keputusan penting terkait Bank Sentral Indonesia. Orang nomor satu di republik ini sudah menunjuk calon tumggal Gubernur BI yaitu Destri Damayanti.
Mari hormati keputusan mantan Danjen Kopassus itu tentang siapa yang layak menakhodai BI.
Hampir sebulan ini “jagad” ekonomi kita diwarnai “persaingan” para kandidat Gubernur BI pasca Pery Warjiyo mundur dari kursinya. Nama top di dunia perekonomiam Indonesia muncul sebagai calon Gubernur BI.
Sediktnya ada 12 nama top yang muncul yaitu Chatib Basri, Didiek J Rachbini, Destry Damayanti dan Thomas Djiwandono serta Solikin M Juhro.
Selain itu ada nama Anggita Ambimanyu, Mari Elka Pangestu, Sri Mulyani, Dicky Kartikoyono, Burhanudin Abdullah, Muliaman Hadad dan Aida S Budiman.
Pada babak “final” mengerucut 3 nama kandidat yaitu Destry Damayanti, Muliaman Hadad dan Aida S Budiman.

Persaingan tim para kandidat pasti memberikan nuansa tersendiri termasuk adanya ruang perbedaan dan “gesekan opini”. Dalam iklim demokrasi perbedaan dalam batas normal masih dimaklumi bahkan bisa menjadi “bumbu” dalam meramaikan kontestasi apapum termasuk pemiihan Gubernur BI.
Ketika Presiden Prabowo menunjuk Destri Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI, secara tidak langsung kontestasi selesai…walaupun prosesnya masih akan berjalan di DPR sampai Penetapan oleh Presiden Prabowo.
Melihat fakta di atas, sudah selayaknya barisan para pendukung calon Gubernur BI legowo dan menghormati keputusan Presiden Prabowo. Sehari setelah penunjukan Destri Damayanti sebagai calon tungga Bl, saya pun dengan besar hati mengucapkan selamat kepada Mba Destry Damayanti.
“Selamat ya Mba atas penunjukannya..” Beliau pun menjawab… “Terima kasih Mas Hamdan,”,


