Oleh Ustadz Wawan Rongkop
Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Era media sosial membuat hampir semua hal berada dalam genggaman. Televisi, koran, dan berbagai platform digital terus berlomba menghadirkan informasi kepada publik.
Banyak sisi positif dari kemajuan ini. Kita bisa kembali menemukan teman sekolah yang puluhan tahun terpisah. Kita dapat berkomunikasi dengan rekan kerja di tempat yang jauh. Makanan bisa dipesan dalam hitungan menit, informasi dikirim melalui email, dan wajah orang yang berada di belahan dunia lain dapat terlihat melalui video call.
Namun, ada sisi lain yang perlu kita waspadai. Di zaman yang serba mudah ini, ternyata kita juga menjadi semakin mudah stres, mudah galau, mudah cekcok, mudah sakit hati, mudah menyakiti, mudah merasa dirugikan, bahkan mudah merugikan orang lain.
Berita buruk pun menyebar dengan sangat cepat. Kesedihan seolah memiliki algoritmanya sendiri. Berita tentang musibah, konflik, kegagalan dan penderitaan sering kali mendapatkan perhatian luar biasa besar.
Tanpa sadar, kita bisa membentuk apa yang saya sebut sebagai “jamaah kesedihan”: orang-orang yang terus-menerus mengonsumsi kabar buruk hingga kehilangan keyakinan bahwa hari esok masih menyimpan kebaikan.
Karena itu, barangkali kita membutuhkan lebih banyak cerita tentang the power of hope, kekuatan harapan, dan the miracle of life, keajaiban kehidupan.
Saya ingin menyumbangkan sedikit rasa optimisme melalui tulisan ini. Semoga kita kembali memiliki keberanian untuk melihat masa depan. Sebab, sesungguhnya keajaiban itu ada.
Masih Ada “Nyawa Cadangan” bagi Penderita Depresi Berat

Pada tahun 2000, saya berjumpa dengan seorang perempuan berinisial SE. Ia seorang istri dan ibu dari dua anak.
Saat itu usianya sekitar 30 tahun dan mengalami depresi berat. Anak keduanya baru berusia dua bulan. Dalam kondisi kejiwaan yang sangat berat, ia bahkan pernah meninggalkan bayinya di pinggir jalan aspal.
Jangan buru-buru bertanya mengapa. Orang yang sedang kehilangan kendali atas dirinya tidak selalu mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam pikirannya. Yang dilakukan orang-orang di sekitarnya adalah memeluk, memaafkan dan mendoakannya.
Saya menuntun orang-orang satu RT untuk memeluknya, memaafkannya dan mendoakannya. Keluarga saya pun saya tuntun melakukan hal yang sama.
Ketika dipeluk, tatapannya kosong. Ia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Bahkan nama orang yang memeluknya pun tidak ia kenali.
Untunglah ada ibu mertuanya yang merawat bayi berusia dua bulan tersebut. Saya kemudian membantunya melalui doa dan ruqyah.
Saya juga bertanya kepada suaminya, dengan bahasa sederhana: “Abot bandha apa bojo?” Berat harta atau berat istri? Ia menjawab, “Abot ke istri.”
Sang suami kemudian merelakan kalung seberat tujuh gram untuk disedekahkan atas nama SE, dengan niat mencari ridha Allah. Tiga bulan kemudian, kabar datang kepada saya SE pulih secara kejiwaan.
Belakangan diketahui, salah satu pemicu depresinya adalah persoalan sapi milik suaminya yang dijual oleh bapak mertuanya tanpa izin.
Bayi yang dahulu pernah diletakkannya di pinggir jalan itu, kini telah tumbuh dan bahkan sudah duduk di kelas 3 SD.
Dari kisah ini saya belajar: jangan terlalu cepat menganggap sebuah kehidupan telah selesai. Keajaiban bisa datang kepada orang yang masih mau berharap kepada Allah.
Seorang Ibu Hamil dan “Pesanan” Takdirnya

Ada pula seorang ibu hamil berinisial MR. Suaminya bekerja di provinsi lain. Sementara itu, bayinya sudah ingin segera lahir.
MR tinggal bersama ibu dan dua adiknya. Persoalannya sederhana tetapi berat: tidak ada dana untuk persalinan, bahkan untuk menyewa kendaraan menuju RSUD pun tidak tersedia.
Pagi itu, saya persilakan mobil saya digunakan seperlunya. Menjelang magrib, saya mendapat kabar bahwa belum ada perkembangan persalinan. Saya sedih melihatnya harus menghadapi situasi tersebut tanpa suami di sisi dan dalam keterbatasan biaya.
Saya mengambil uang Rp300 ribu dari dompet sendiri dan menyedekahkannya kepada seorang teman atas nama MR, dengan niat mencari ridha Allah.
Sekitar satu jam kemudian, saya dan sopir tiba di RSUD. Bayinya sudah lahir. Ibu dan bayinya selamat dan prosesnya berjalan lancar.
Saya percaya, Allah memiliki “teknologi” yang tidak pernah kita pahami untuk menghadirkan pertolongan.
Kita tidak pernah tahu dari pintu mana pertolongan Allah akan datang. Karena itu, jangan berhenti percaya kepada kekuasaan-Nya.
Keajaiban Doa Seorang Ibu

Ada kisah lain tentang seorang perempuan berusia 25 tahun berinisial FB yang bekerja di Bontang, Kalimantan Timur. Ibunya, LP, berada di Depok, Jawa Barat.
Suatu hari LP menelepon saya. Ia mengabarkan bahwa putrinya mengalami kondisi yang membuatnya hendak membatalkan pernikahan.
Padahal gedung resepsi sudah disewa, katering telah dipesan, EO sudah dibayar dan urusan KUA telah disiapkan.
Saya kemudian menuntun LP untuk berdoa: “Duhai Allah, saya yang melahirkan FB. Saya yang memberinya ASI. Detik ini, semua dosa lisanku yang membuatnya celaka kucabut. Semua marahku kepadanya kucabut. Semua dosaku yang membuat-Mu marah kepadaku, kuakui. Ampuni aku, duhai Rabb.”
LP kemudian diminta memaafkan putrinya, meridhainya dan bersedekah atas nama anaknya. Sekitar satu jam kemudian, ia menelepon kembali. Kondisi putrinya membaik dan rencana pernikahan kembali berjalan.
Dari kisah tersebut saya semakin percaya pada kekuatan doa seorang ibu. Kalau Anda masih memiliki ibu, jangan hanya meminta doa kepada ustaz.
Datanglah kepada ibu. Minta doanya. Dan bila pernah ada ucapan buruk yang terlontar ketika marah, jangan malu meminta maaf dan meminta keridhaannya.
Doa seorang ibu adalah salah satu bentuk kasih sayang yang sangat besar dalam kehidupan seorang anak.
Kehilangan Tidak Selalu Berarti Kekurangan
Pernah pula datang seorang ibu yang dikenal sebagai juragan. Ia mengadu kehilangan uang Rp700 ribu.
Sebenarnya ia sudah mengetahui siapa yang mengambil uang tersebut, tetapi memilih tidak memprosesnya.
Saya hanya mengajaknya berbicara panjang lebar. Pada akhirnya saya memintanya mengikhlaskan kehilangan tersebut. Toh, yang hilang hanya Rp700 ribu.
Ia masih memiliki rumah, mobil dan keluarga. Statusnya sebagai seorang ibu juragan pun tidak hilang.
Sekitar seminggu kemudian, ia mengabari saya melalui BBM—karena saat itu WhatsApp belum seperti sekarang.
Katanya, ada seorang teman yang memberinya uang tunai Rp2 juta. Ia kehilangan Rp700 ribu, tetapi kemudian mendapatkan Rp2 juta.
Apakah itu kebetulan? Saya memilih melihatnya sebagai pelajaran tentang keikhlasan. Kita tidak pernah tahu bagaimana Allah mengganti sesuatu yang kita lepaskan dengan ikhlas.
Sedekah Tidak Selalu Membuat Ujian Hilang

Ada pula pengalaman Cak HC. Ia pernah meminta saya menyalurkan sedekah Rp300 ribu. Setelah dana tersebut disalurkan, justru mobilnya mengalami mogok.
Ia kemudian mengeluh: “Ustadz! Saya sudah sedekah, kok masih dapat musibah?”
Saya menjawab, justru bisa jadi karena sedekah itu, musibah yang diterimanya hanya berupa mobil mogok.
Mobil memang berhenti. Tetapi bengkel datang, dalam sekitar 30 menit selesai dan pada pukul 23.00 ia sudah sampai rumah.
Coba bayangkan kemungkinan lainnya. Tanpa sedekah, mungkin ia tetap mengemudi dalam kondisi mengantuk. Bisa saja terjadi kecelakaan dan akhirnya harus masuk rumah sakit.
Kita tidak pernah tahu. Karena itu, jangan selalu mengukur manfaat sedekah dari hilangnya semua masalah.
Bisa jadi sedekah bukan menghapus ujian. Bisa jadi sedekah meringankan kualitas ujian yang seharusnya jauh lebih berat.
Allah Tahu Kapan Waktu yang Tepat
Ada pula seorang pegawai Dinas Sosial di Surakarta yang hendak menjual tanah dan bangunannya.
Sebanyak 19 orang datang menawar. Baru pada calon pembeli ke-19 terjadi kesepakatan dan pembayaran dilakukan secara tunai.
Mengapa tidak pembeli pertama? Mengapa bukan pembeli kesepuluh? Kita tidak tahu. Tetapi Allah tahu.
Boleh jadi jika pembeli ketiga yang deal, uang tersebut akan digunakan untuk sesuatu yang tidak membawa keberkahan.
Boleh jadi jika pembeli kesepuluh yang membeli, ada persoalan lain yang terjadi. Kita tidak pernah mengetahui masa depan. Allah mengetahuinya.
Karena itu, berbaik sangka kepada Allah adalah bagian penting dari perjalanan hidup. Terkadang sesuatu yang kita anggap terlambat justru sedang disiapkan agar datang pada waktu yang paling tepat.
Jadilah Peminat Keajaiban Hidup

Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap persoalan dapat selesai hanya dengan sedekah, doa atau keyakinan tanpa ikhtiar. Tidak.
Kita tetap harus berusaha. Orang sakit tetap membutuhkan pengobatan. Orang yang menghadapi persoalan psikologis membutuhkan pertolongan yang tepat. Masalah keluarga perlu komunikasi. Persoalan ekonomi membutuhkan kerja keras.
Tetapi di atas seluruh ikhtiar itu, jangan kehilangan harapan kepada Allah. Sebab hidup tidak selalu berjalan sesuai perhitungan manusia.
Ada orang yang hampir menyerah tetapi ternyata menemukan jalan keluar. Ada yang kehilangan tetapi mendapatkan pengganti.
Ada yang terlambat mendapatkan sesuatu tetapi ternyata keterlambatan itu menyelamatkannya. Ada yang mengira sebuah masalah adalah akhir, padahal ternyata hanya sebuah tikungan menuju kehidupan yang baru.
Maka, di tengah derasnya berita buruk di media sosial, mari sesekali mencari dan menyebarkan cerita yang menumbuhkan harapan.
Jangan hanya menjadi konsumen kabar buruk. Jangan sampai setiap pagi kita mengisi kepala dengan kecemasan dan setiap malam menutup hari dengan pesimisme.
Pastikan Anda menjadi peminat keajaiban hidup.
Percayalah, masih ada hari esok. Masih ada pintu yang belum terbuka. Masih ada doa yang belum terjawab. Masih ada pertolongan yang belum kita lihat.
Dan selama Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bernapas, cerita kehidupan kita belum selesai.
Istana Atas Telaga
10 Agustus 2026


