FAKTANESIA.ID | TANGERANG SELATAN – Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) menegaskan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penentu bagi kemajuan sekaligus daya tahan negara-negara Islam dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, kemampuan Iran bertahan di tengah tekanan militer Amerika Serikat dan Israel menjadi bukti nyata pentingnya investasi jangka panjang di bidang teknologi.
Pandangan tersebut disampaikan JK saat menjadi keynote speaker pada International Seminar and The 15th Annual General Meeting bertema Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (24/6/26).
Di hadapan peserta seminar, JK mengatakan konflik yang melibatkan Iran memberikan pelajaran penting mengenai hubungan antara kekuatan teknologi, kepemimpinan, dan perdamaian di dunia Islam.
“Iran mengejutkan dunia. Tidak ada yang menyangka mereka memiliki kemampuan teknologi yang mampu membuat negara itu bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel,” kata JK.
Menurutnya, kemampuan Iran bertahan tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan hasil dari penguasaan teknologi yang dibangun secara konsisten selama bertahun-tahun.
“Yang memenangkan adalah teknologi dan semangat. Karena itu jika negara-negara Islam ingin maju, harus menguasai teknologi. Agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan seimbang,” ujarnya.
JK menilai dunia Islam hingga kini masih dihadapkan pada berbagai konflik berkepanjangan, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Ia menyinggung perang Iran-Irak, konflik di Yaman, Sudan, Suriah, hingga ketegangan Pakistan dan Afghanistan sebagai gambaran besarnya tantangan yang masih dihadapi.
Kondisi tersebut, lanjut JK, menjadi pekerjaan besar bagi negara-negara Islam jika ingin tampil sebagai kekuatan yang mampu membangun perdamaian dunia.
“Bagaimana berbicara tentang kepemimpinan Islam untuk perdamaian jika banyak negara Islam masih berkonflik. Ini menjadi tantangan yang harus dijawab bersama,” katanya.
Dalam kesempatan itu, JK juga menyoroti minimnya solidaritas negara-negara Islam ketika Iran menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, situasi tersebut mencerminkan kompleksitas hubungan politik di kawasan Timur Tengah.
“Ketika Amerika menyerang Iran, hampir tidak ada negara Islam lain yang membantu Iran. Ini menunjukkan kompleksitas hubungan politik di kawasan Timur Tengah,” ujarnya.
Lebih jauh, JK menegaskan bahwa kemajuan dunia Islam tidak cukup hanya bertumpu pada semangat keagamaan. Kemajuan harus didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kekuatan ekonomi agar mampu bersaing di tingkat global.
Ia mencontohkan tradisi keilmuan Persia yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar, seperti Ibnu Sina, sebagai fondasi yang pernah mengantarkan peradaban Islam mencapai masa keemasan.
“Ilmu pengetahuan adalah budaya yang membuat suatu bangsa kuat. Tanpa teknologi dan ilmu pengetahuan, kemajuan tidak mungkin dicapai,” katanya.
Selain membahas dinamika geopolitik Timur Tengah, JK turut berbagi pengalaman dalam berbagai proses penyelesaian konflik, mulai dari Aceh, Poso, dan Ambon, hingga keterlibatannya dalam upaya perdamaian di Afghanistan serta Thailand Selatan.
Berdasarkan pengalamannya, ia menilai seorang pemimpin perdamaian harus mampu menjaga netralitas, memahami akar persoalan secara menyeluruh, dan menawarkan solusi yang dapat diterima semua pihak.
“Kalau ingin menjadi pemimpin perdamaian, harus netral, memahami masalahnya dengan baik, dan memiliki keberanian untuk menawarkan jalan keluar yang bisa diterima semua pihak,” tuturnya.
Di akhir pemaparannya, JK berharap perguruan tinggi Islam mengambil peran lebih besar dalam melahirkan generasi yang unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang moderat. Menurutnya, perpaduan keduanya menjadi modal penting bagi dunia Islam untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian global.
“Jika ingin menjadi pemimpin dalam perdamaian, negara harus maju, dihargai, netral, dan memiliki kemampuan memahami masalah secara mendalam,” pungkasnya.


