faktanesia.id – Media Sustainability Forum (MSF) 2025 resmi dibuka pada Rabu, 3 Desember 2025, di Antara Heritage Center, Jakarta Pusat. Forum yang berlangsung hingga 4 Desember ini mempertemukan para pemimpin perusahaan media, organisasi jurnalis, akademisi, platform digital, serta pemangku kebijakan untuk membahas ketahanan media di tengah percepatan teknologi dan ketimpangan ekosistem digital.
Mengusung tema “Memperkuat Daya Hidup Media dalam Ekosistem Digital: Berdaya, Bertumbuh, dan Berkelanjutan,” MSF 2025 menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan keberlangsungan media yang menjadi fondasi demokrasi.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menekankan bahwa dunia saat ini bergerak sangat cepat sehingga praktik terbaik (best practice) tidak lagi memadai. Ia menyatakan bahwa industri media dan masyarakat global kini memasuki era “next practice”, di mana perubahan terjadi dalam hitungan bulan.
“Sekarang ini bukan semata best practice, tapi next practice. Setiap saat AI itu selalu bicara next, next, next, dan hanya dalam hitungan beberapa bulan sudah muncul hal yang baru,” ujarnya.
Komaruddin kemudian menggambarkan fenomena perubahan teknologi melalui pengalamannya menggunakan aplikasi navigasi dalam perjalanan menuju acara. Ia mengaku kagum bagaimana teknologi mampu menjawab pertanyaan jutaan pengguna secara real-time, meski pusat layanannya berada di negara berbeda.
“Saya melihat betapa banyak orang bertanya soal alamat, dan semuanya bisa dijawab oleh teknologi seperti Google. Padahal yang melayani tinggalnya bukan di Jakarta, bahkan mungkin di Inggris, orang India yang mengoperasikannya,” tuturnya.
Ia menyebut perkembangan tersebut sebagai “silent revolution” yang memengaruhi seluruh masyarakat dunia, melampaui batas negara maupun agama.
“Teknologi itu silent revolution yang dampaknya merambah keseluruhan masyarakat. Kalau orang jualan agama itu terbatas, tapi science itu universal. Bangsa apa pun, agama apa pun, tidak bisa menolaknya,” tegas Komaruddin.
Sementara itu, Ketua Panitia MSF 2025, Fransiskus Surdiasis, menegaskan bahwa keberlanjutan media bukan hanya persoalan internal industri, melainkan menyangkut kepentingan publik dan masa depan kehidupan demokratis.
“Kepelanjutan media itu bukan sekadar keharusan ekonomi, melainkan keharusan politik,” ujarnya.
Fransiskus menekankan bahwa media dan jurnalisme merupakan institusi vital dalam menjaga kualitas demokrasi. Media yang lemah, menurutnya, akan menghasilkan demokrasi yang rapuh.
“Membayangkan demokrasi tanpa kehadiran media dan jurnalisme yang kuat sama seperti membangun rumah dengan pilar penopang yang tak utuh. Hanya persoalan waktu rumah itu akan runtuh,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa upaya menjaga keberlanjutan media hanya dapat berhasil bila dilakukan secara menyeluruh, sistematis, dan melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem informasi.
“Kerja keberlanjutan membutuhkan semacam gotong royong nasional, di mana berbagai pihak ikut berkontribusi: komunitas pers, platform digital, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat,” ujarnya.
MSF 2025 menghadirkan rangkaian program yang dirancang untuk memperkuat ketahanan dan daya hidup industri media, antara lain: pelatihan AI untuk pengelola media, sesi media next practice, Forum Platform dan Media, pertemuan strategis para pemangku kepentingan, seminar strategi keberlanjutan media. Forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret bagi pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem media yang sehat, berdaya, dan berkelanjutan.


