faktanesia.id, – Center for Social Engagement (CSE) National Dong Hwa University (NDHU), Taiwan, melakukan kunjungan kerja ke Indonesia pada 7–14 Januari 2026 guna berdialog langsung dengan para pemangku kepentingan pekerja migran Indonesia (PMI).
Melalui keterangan pers yang diterima faktanesia.id, Jumat (16/1/2025), kunjungan tersebut menjadi bagian dari komitmen University Social Responsibility (USR) NDHU untuk mendorong terciptanya ekosistem ketenagakerjaan Taiwan yang lebih inklusif dan ramah bagi pekerja asing.
Data Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan per November 2025 mencatat jumlah pekerja migran di negara tersebut mencapai 865.811 orang, dengan 332.993 di antaranya berasal dari Indonesia. Dari jumlah itu, 108.228 PMI bekerja di sektor produktif seperti manufaktur, anak buah kapal, dan konstruksi, sementara 183.820 orang terserap di sektor kesejahteraan, termasuk perawat, pekerja rumah tangga, dan panti jompo.
Direktur CSE NDHU, June KU, menegaskan pentingnya belajar langsung dari pengalaman masyarakat Indonesia di tingkat akar rumput sebagai fondasi perbaikan kebijakan dan praktik kerja di Taiwan. Selama berada di Indonesia, delegasi CSE menyambangi Jakarta, Bandung, Indramayu, dan Cirebon, bertemu dengan PMI purna, lembaga penempatan dan pelatihan, Lembaga Dakwah PBNU (LD PBNU), organisasi non-pemerintah, hingga Dinas Ketenagakerjaan Jawa Barat.
Dalam dialog dengan para mantan PMI, KU menyoroti realitas pahit yang kerap dihadapi calon pekerja migran, mulai dari kewajiban meminjam dana besar hingga terjerat utang, tekanan kerja, serta keterpisahan dari keluarga. Kondisi tersebut, menurutnya, harus diputus agar tidak terus berulang.
“Yang saya pikirkan adalah bagaimana Taiwan, tentu bersama dengan NGO dan Indonesia, bisa memberikan pelatihan kepada para PMI yang hendak pulang. Misalnya, kalau suaminya di Indonesia punya kebun, maka nanti istrinya diajarkan bagaimana merawat kebun yang benar. Sehingga, saat dia pulang, dia sudah punya modal dan pengetahuan untuk melanjutkan hidupnya,” ujar KU kepada para pekerja migran yang tergabung dalam komunitas Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI) di Indramayu yang didukung Migrant CARE.
Pertemuan dengan Serikat Buruh Migran Indonesia dan Migrant CARE memusatkan perhatian pada dua isu krusial. Pertama, kesejahteraan PMI di sektor pengasuhan (caregivers) yang belum dilindungi undang-undang ketenagakerjaan, sehingga menghadapi upah di bawah standar, minim hari libur, dan relasi kuasa yang timpang dengan pemberi kerja. Kedua, pendampingan keluarga PMI yang ditinggalkan, mengingat kebijakan Taiwan yang tidak mengizinkan pekerja kerah biru membawa keluarga, berdampak pada tumbuh kembang anak yang kerap kekurangan perhatian.
Di Indramayu, CSE NDHU juga mengunjungi SMK Negeri 1 Bongas dan berdialog dengan para siswa dari keluarga PMI. Kegiatan ini bertujuan membuka perspektif bahwa Taiwan bukan hanya tujuan bekerja, melainkan juga peluang melanjutkan pendidikan.
Sementara itu, dialog dengan LD PBNU menekankan peran sentral agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Isu ini relevan karena masih ditemukan larangan beribadah, mengenakan kerudung, hingga keterpaksaan mengonsumsi makanan non-halal oleh sebagian majikan atau agensi. LD PBNU menilai praktik tersebut justru merugikan majikan karena meningkatkan kerentanan stres pada PMI.
Diskusi tersebut juga menghasilkan pemahaman praktis, antara lain bahwa Islam tidak melarang PMI Muslim memasak daging babi untuk majikan, melainkan hanya melarang mengonsumsinya, sebuah hal yang kerap disalahpahami dan membebani psikologis pekerja.
Menanggapi berbagai temuan itu, KU menegaskan komitmen CSE NDHU untuk membangun kolaborasi lintas pihak guna memperbaiki rezim ketenagakerjaan Taiwan dan meningkatkan kualitas hidup PMI.
“Apa yang bisa kami lakukan sebagai universitas yang berbasis di Hualien adalah kami akan memulainya dari komunitas yang ada di Hualien itu sendiri. Kami bisa membantu untuk membangun dialog dan kesepahaman dengan warga Taiwan di Hualien dan warga Indonesia yang ada di sana juga. Saya yakin kalau apa yang dilakukan di Hualien berhasil, pasti akan berhasil juga diterapkan di kota lainnya,” kata KU.
“Hualien adalah daerah pedesaan dan banyak orang tua, sehingga tak heran kalau banyak PMI juga di sana. Hualien juga memiliki rekam jejak yang sangat inklusif dan terbuka dengan budaya dari luar. Karenanya, saya yakin memulainya dari Hualien adalah langkah yang tepat,” tutup KU.[]


