faktanesia.id, – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu sentimen risk-off di berbagai bursa Asia, sementara harga minyak mentah melonjak tajam akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi dunia.
Dalam laporan Spring Flash yang dikeluarkan Eastspring Invesments, Selasa (2/3/2026), kawasan Asia kompak bergerak di zona merah pada awal pekan ini. Investor global memilih bersikap hati-hati dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, seiring meningkatnya ketidakpastian akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Lonjakan paling mencolok terjadi pada harga minyak mentah. Minyak jenis Brent sempat menguat hingga sekitar 13 persen sebelum memangkas sebagian kenaikannya, dan kini tercatat masih naik sekitar 9 persen dibandingkan penutupan Jumat, 27 Februari 2026. Kenaikan tajam ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global.
Salah satu faktor utama kekhawatiran pasar adalah laporan terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis ini mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi langsung mengerek harga energi global dan memicu volatilitas lanjutan.
IHSG Melemah, Rupiah Tertekan
Dampak tekanan global turut dirasakan pasar domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak pembukaan perdagangan bergerak di zona negatif dan ditutup melemah 2,66 persen atau turun 218,65 poin ke level 8.016,83.
Tekanan terutama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar. Sejumlah emiten mencatatkan penurunan signifikan, antara lain BREN (-5,47 persen), BMRI (-3,79 persen), ASII (-5,62 persen), TPIA (-10,82 persen), dan BBCA (-2,09 persen). Di tengah pelemahan tersebut, sektor energi menjadi salah satu sektor yang relatif lebih bertahan dibandingkan sektor lainnya.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah melemah 0,48 persen ke level Rp16.868 per dolar AS, seiring penguatan indeks dolar AS. Tekanan juga terjadi di pasar obligasi. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 5 tahun naik 7 basis poin ke level 5,85 persen, sementara tenor 10 tahun meningkat ke 6,46 persen dari sebelumnya 6,43 persen.
Dua Jalur Risiko ke Indonesia
Eskalasi konflik ini berpotensi memengaruhi Indonesia melalui dua jalur utama.
Pertama, melalui perdagangan komoditas, khususnya minyak. Kenaikan harga energi global berisiko meningkatkan tekanan inflasi domestik. Dalam konteks Indonesia, hal ini dapat memperbesar kebutuhan subsidi dan kompensasi energi guna menjaga stabilitas harga di dalam negeri. Jika beban subsidi meningkat signifikan, tekanan terhadap fiskal dan risiko pelebaran defisit anggaran pun tak terhindarkan.
Kedua, melalui pasar keuangan. Dalam periode ketidakpastian global, investor cenderung memindahkan dana ke instrumen safe haven. Pergeseran ini berpotensi memicu arus keluar dana asing (foreign outflows) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya dapat berupa volatilitas rupiah yang lebih tinggi serta meningkatnya tekanan pada pembiayaan eksternal.
Menanti Arah Eskalasi
Arah pasar selanjutnya sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dalam beberapa hari ke depan. Sejumlah variabel kunci menjadi perhatian pelaku pasar, mulai dari kemungkinan de-eskalasi melalui jalur diplomasi dan gencatan senjata, hingga potensi peningkatan konflik yang lebih luas.
Jika ketegangan mereda dan tidak berkembang menjadi krisis regional yang lebih besar, lonjakan harga minyak berpeluang bersifat sementara. Namun, apabila gangguan di Selat Hormuz berlangsung lebih lama atau konflik meluas melibatkan aktor regional dan global lainnya, maka guncangan dapat berubah menjadi tekanan struktural yang lebih berkepanjangan.
Secara historis, guncangan geopolitik kerap memicu lonjakan tajam pada harga minyak dan aset safe haven pada fase awal. Namun volatilitas biasanya mereda ketika konflik terkendali dan tidak berkembang lebih jauh. Untuk saat ini, pasar diperkirakan tetap bergerak dalam volatilitas tinggi, terutama pada aset berisiko, nilai tukar, dan komoditas energi.
Pelaku pasar domestik dan global kini menanti sinyal yang lebih jelas: apakah jalur diplomasi akan ditempuh, atau justru eskalasi akan semakin dalam. Hingga kepastian itu muncul, kehati-hatian diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan pasar.


