Faktanesia.id, – Sebuah pemandangan tak biasa terlihat di lereng perbukitan Sentul dan Gunung Sindur, Bogor, Ahad (4/5). Ratusan orang berkumpul tak hanya untuk berzikir, tetapi juga menanam ribuan pohon dalam upaya menyelaraskan spiritualitas dan kepedulian ekologis.
Sebanyak 20.000 pohon ditanam dalam program bertajuk “Zikir & Tanam”, yang digelar oleh Yayasan Majelis Azzikra bekerja sama dengan Yayasan EcoMasjid.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Haul ke-6 almarhum KH. Muhammad Arifin Ilham, sekaligus lanjutan dari gerakan nasional Wakaf Hutan yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI pada Hari Bumi, 22 April 2025 lalu.
“Zikir menguatkan hati, dan hutan wakaf adalah dzikir alam. Keduanya adalah ibadah yang saling melengkapi,” ujar KH. Syukran Makmun, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta.
Program “Zikir & Tanam” menjadi simbol integrasi antara ibadah lisan dan tindakan nyata untuk menjaga bumi. KH. M. Idrus Ramli menyebut Hutan Wakaf sebagai “ibadah jangka panjang”, karena setiap pohon yang tumbuh akan terus mengalirkan pahala sebagai sedekah jariyah, sekaligus menjadi bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Sementara itu, KH. Abdul Syukur, Pembina Yayasan Majelis Azzikra, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya ritual simbolik, tetapi juga bentuk dakwah ekologis. “Ini adalah ikhtiar kami untuk menyatukan hati dan alam dalam satu ritme ibadah,” katanya.
Hutan Wakaf sebagai Gerakan Nasional

Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nazaruddin Umar, menyatakan bahwa wakaf produktif berbasis lingkungan menjadi model nyata kontribusi keagamaan terhadap keberlanjutan hidup. Ia menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk mendorong partisipasi pesantren dan masjid dalam mengelola lahan wakaf demi kebermanfaatan ekologis dan sosial.
“Kita ingin mewariskan dunia yang lebih baik kepada anak cucu melalui gerakan wakaf yang tidak hanya produktif, tetapi juga ramah lingkungan,” ujarnya.
Dukungan ini memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pesantren/masjid, dan masyarakat dalam pengembangan Hutan Wakaf produktif di berbagai daerah.
Sementara Dr. Hayu Prabowo, Pembina Yayasan EcoMasjid, menjelaskan bahwa Hutan Wakaf bukan hanya proyek konservasi, tetapi solusi keislaman atas krisis ekologis global. “Ini adalah wujud nyata misi rahmatan lil ‘alamin, menyatukan zikir manusia dan tasbih alam dalam harmoni ibadah,” katanya.
Gerakan Hutan Wakaf kini menjangkau berbagai daerah, antara lain Aceh, Bogor, Mojokerto, Gunungkidul, Wajo, Gunung Sindur, dan Tasikmalaya. Ke depan, para nazhir wakaf akan membentuk Forum Hutan Wakaf Indonesia yang menjadi wadah koordinasi bersama Kementerian Agama, Kementerian Lingkungan Hidup, dan lembaga-lembaga strategis lainnya.


