faktanesia.id, – Penulis sekaligus pemikir muda Fahd Pahdepie resmi meluncurkan buku terbarunya berjudul 2045 Hz. Buku tersebut hadir sebagai refleksi kritis sekaligus ajakan terbuka kepada generasi muda untuk menimbang kembali arah perjalanan Indonesia menjelang satu abad kemerdekaan. Karya tersebut diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Pear Press.
Melalui 2045 Hz, Fahd tidak sekadar membahas pembangunan dalam kerangka teknokratis. Ia mengajak pembaca melihat Indonesia sebagai ruang kesadaran kolektif yang membutuhkan keselarasan baru.
Buku tersebut diposisikan sebagai semacam manifesto generasi yang mendambakan masa depan bangsa dengan imajinasi yang hidup, harapan yang terjaga, dan arah yang lebih terang.
“Hari ini kita membutuhkan frekuensi bersama, di mana setiap anak bangsa merasa terhubung, terlibat, dan optimistis tentang masa depan Indonesia. Yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang merasa terasing, pesimis, bahkan kehilangan rasa memiliki. 2045 Hz adalah ajakan untuk menyetel ulang arah itu,” ujar Fahd dalam acara peluncuran buku di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Salah satu gagasan utama yang ditawarkan Fahd adalah konsep Energi Peradaban (EP) yang dirumuskan sebagai: EP = (Narasi × Imajinasi × Tata Kelola) ÷ Disparitas.
Menurutnya, lompatan besar sebuah bangsa hanya mungkin terjadi bila memiliki narasi kolektif yang menyatukan, imajinasi masa depan yang kuat, serta tata kelola yang berintegritas, sembari menghadapi tantangan disparitas kesadaran yang masih mengemuka di tengah masyarakat.
Peluncuran 2045 Hz berlangsung di Aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, dan dihadiri lebih dari 250 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, akademisi, aktivis, hingga tokoh muda nasional.
Sejumlah pembahas turut memberikan pandangan, di antaranya Asisten Khusus Presiden RI Dirgayuza Setiawan, Staf Khusus Menko PMK Ferro Ferizka, Sherly Annavita, Nadia S. Habibie, Ali Affandi, Arih Budi Utomo, serta akademisi Prof. Didik J. Rachbini dan Dr. Aan Rukmana.
“Saya menyambut buku ini, bangsa ini memang memerlukan narasi kolektif untuk tetap bersatu dan tidak tercerai berai, hari ini dan ke depan.” kata Dirgayuza dalam ulasannya.

Sementara itu, Dr. Aan Rukmana menekankan pentingnya ruang intelektual dalam merawat gagasan kebangsaan. “Gagasan besar tentang bangsa sering lahir dari ruang kampus. Diskusi seperti ini penting untuk menjaga imajinasi dan arah generasi muda,” ujarnya.
Project Manager kegiatan, Muhammad Adam, menjelaskan bahwa 2045 Hz tidak dimaksudkan berhenti sebagai karya tulis semata. Ke depan, inisiatif ini akan dilanjutkan melalui roadshow ke berbagai kota di Indonesia guna membuka ruang dialog publik dan menumbuhkan optimisme generasi muda menuju Indonesia 2045.[]
Mi’raj News Agency (MINA)


