Oleh: Hamdan Nugroho, Aktivis ’98 Yogyakarta
Namanya kembali mencuat di lingkar kekuasaan. Di Kabinet Merah Putih Pemerintahan Prabowo Subianto, kursi Menteri Pertahanan diamanahkan kepada seorang perwira lama yang tak asing bagi barak maupun istana: Sjafrie Sjamsoeddin. Jenderal kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 30 Oktober 1952 ini bukan pendatang baru. Rekam jejaknya panjang, dan berlapis risiko.
Lulusan terbaik Akabri 1974 itu meniti karier dari medan operasi hingga pusat komando. Ia pernah memimpin Kodam Jaya pada 1998, tahun yang mengguncang Jakarta. Pada hari-hari genting itu, sebuah adegan kecil tapi menentukan terekam di Glodok: kerumunan massa berebut mendekat saat B. J. Habibie meninjau lokasi penjarahan. Sjafrie berdiri di depan, mengangkat kedua tangan, kode tegas agar jarak dijaga. Massa patuh. Presiden aman. Jakarta tak makin gaduh.
Operasi-operasi berat bukan cerita baru baginya, Timor Timur, Aceh, hingga penugasan-penugasan sensitif yang menguji nyali dan disiplin. Salah satu kisah paling menegangkan terjadi ketika ia menjadi ajudan Presiden Soeharto. Tahun 1995, di Hotel Waldorf Towers, New York, protokol nyaris jebol. Pengawal Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin bersikeras naik ke President Suite di luar prosedur Paspampres. Di depan lift, adu argumen memanas. Senjata ditarik. Detik-detik menahan napas. Namun disiplin menang: “Sorry, I understand,” kata sang pengawal, konon dari lingkar Mossad. Jadwal dipatuhi. Presiden aman.
Reputasi itulah yang membuat Prabowo mempercayainya, bukan hanya sebagai Menhan, tetapi juga Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional. Garang di operasi, rinci di urusan kesejahteraan. Dalam sebuah peninjauan dapur satuan di Aceh, Sjafrie memeriksa detail yang sering luput: potongan ayam harus delapan bagian -bukan sepuluh- dan minyak goreng mesti bening, bukan hitam. Bagi sebagian orang remeh. Bagi prajurit di lapangan, itu soal gizi, stamina, dan hormat.
Kesibukan kabinet tak mengikis adabnya pada para senior. Ia berziarah ke makam M. Jusuf, figur jenderal yang dikenal berani, taat aturan, bersahaja, dan peduli prajurit. M. Jusuf juga masyhur dekat dengan ulama; pertautannya dengan keluarga pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, kerap disebut sebagai teladan etika kekuasaan yang berakar pada iman dan integritas.
Spirit itu tampak hidup dalam diri Sjafrie. Keberanian yang sama muncul ketika ia menyoroti bandara di kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Morowali, Sulawesi Tengah, yang dinilainya terlalu bebas dari kontrol negara. Kalimatnya tajam: jangan ada republik di dalam republik. Pesannya jelas: kedaulatan tak boleh ditawar, hukum tak boleh absen.
Keberanian, kepedulian, loyalitas, dan ketaatan pada aturan, nilai yang lama diasosiasikan dengan M. Jusuf, kini seperti diteruskan. Ada kisah lama tentang M. Jusuf yang menegur keras seorang konglomerat karena berbusana tak pantas saat menghadap presiden. Etika mendahului akses. Wibawa negara dijaga dari hal-hal kecil.
Di Kabinet Merah Putih, kehadiran Sjafrie adalah berkah sekaligus peringatan. Berkah bagi presiden yang membutuhkan pembantu setia dan tegas. Peringatan bagi siapa pun yang gemar bermain di area abu-abu. Ia bukan sosok yang gemar sorotan, tapi ketika prinsip dilanggar, ia maju paling depan.
Akankah kisah Waldorf Towers terulang, dalam konteks berbeda, dengan tantangan baru? Waktu yang menjawab.
Yang pasti, republik menunggu gebrakan seorang jenderal yang bersahaja: menjaga kedaulatan, merawat pertahanan, dan memastikan pemerintahan berjalan lurus.[]


